Kukira, sudah tidak akan ada lagi cerita yang ku tulis di sini. Sudah lima bulan dalam 2015, dan aku baru datang. Jika kau pikir aku sudah benar-benar menyerah dengan kisah cinta payah yang bahkan aku lupa pernah merangkainya, kalian salah. Aku mempunyai hati yang bengal. Benar-benar benal, hingga membuatku kuwalahan sendiri menghadapinya.
Dia seperti punya cara hidup sendiri. Dia mengatur semuanya sendiri, seakan aku sebagai tuannya, hanyalah sebuah kerangka formil yang harus ada di dalam alurnya.
Berapa kali ku katakan menyarah, merasa lelah menunggu dia yang tak kunjung tiba, seperti yang selalu ia janjikan saat hari berhujan, gerimis, di akhir januari waktu itu. Saat senja tak lagi berwarna jingga, saat senja beranjak dingin, berubah menjadi nila pekat yang akhirnya berpadu dalam gelap.
Pun, aku selalu menyadari, bahwa dalam setiap awal, akan ada akhir sebagai penyeimbang. Mungkin ini adalah akhir dari enam tahun diam-diam yang kita rangkai. Pada akhirnya, kekhawatiranku akan terjadi, kau tak pernah datang lagi, seperti setahun lalu, atau setahun lalunya lagi, atau bertahun-tahun lalu, saat putih abu-abu masih menjadi kebanggan kita. Tersenyum dalam diam, berkirim doa dalam diam, seperti mencintai diam-diam. Merindu diam-diam.
Hari ini pun, kembali datang. Seharusnya kau adalah 00.00 pertamaku. Saling mendoakan untuk hidup kita. Lalu kusadari, semua memang harus berubah. Kau berubah, punya kehidupanmu sendiri. Dan seharusnya, begitu juga diriku. Tapi, rasanya hatiku adalah musuh yang akan tetap menempeli diriku sampai nyawa tak lagi dikandung badan. Faktanya, aku tetap menunggumu, meski kutahu selalu ada yang lain di hatimu. Cinta memang sebodoh ini, ya?
Akankah kau datang, hari ini? ataukah mungkin, ini akan menjadi titik balik untuk kita, bahwa semua ini hanya semu. Lalu kau akan melanjutkan langkahmu dengan hidupmu, sementara aku berdiam dalam kenagan dimana kau masih bersemayam di dalamnya. Dengan senyum polos itu, seperti bertahun-tahun yang lalu.
Untuk kau yang sedang bertambah umur hari ini, Selamat Ulang Tahun. Mungkin ini tak akan pernah bisa kau baca, tapi... semoga doa-doa yang ku udarakan untukmu ke langit luas, pada malam-malam yang beku, akan selalu melingkupi hidupmu, dalam bahagia.
Hari yang bergelombang datar, 5 Mei 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar