"Lu pacaran ya sama dia?"
Kamu orang yang entah kesekian menanyankan hal ini padaku. Aku tak tahu dimana letak keanehannya, karena beberapa orang yang melihat interaksi ini selalu menanyakan hal yang sama. Hei, bukankah hal seperti ini wajar? Aku hanya berusaha untuk bersikap fleksibel, oke?
"Aku tahu banget mana orang yang beneran suka sama yang biasa aja!"
Sudahkah pernah ku katakan kepadamu, bahwa dia memang seperti itu? Dia bertingkah seperti itu kepada semua temannya, dan jika dia menganggapku teman maka tidak aneh saat dia bertingkah macam ini. Aku, temannya kan? Iya.
"Itu karena dia belum ngungkapin aja ke kamu, jadi kamu nyangkal."
Apa yang perlu diungkapkan? kami tahu bagaimana hati kami masing-masing, mungkin.
"Kamu bilang, kamu makhluk yang paling peka terhadap kode-kodean. Sudah dikode sekeras itu, kamu masih mau nyangkal?"
Hah, sudahlah. sebenarnya, bukan karena aku tidak peka, tapi ini lebih mengarah ke tidak peduli. Aku tidak mau peduli dan aku tidak mau merasa peka untuk hal yang masih dalam zon abu-abu. Untuk beberapa kasus hidup yang seperti ini, aku sudah terlalu lelah untuk berharap, aku terlalu takut jika pada akhirnya aku akan kecewa dan lebih parah lagi.
"Jadi keputusanmu?"
Aku hanya ingin melindungi hatiku dari luka-luka yang tak perlu. Aku sudah menguncinya rapat-rapat dalam ruang tertutup dan kuharap hanya orang yang benar-benar ditakdirkan untukku lah yang dapat membukanya, karena aku yakin aku telah memberikan kuncinya kepada dia. Takdirku.
Dalam Kicauan burung subuh, 20 November 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar