Hampir mendekati akhir bulan, tandanya kuota internetku akan segera habis. sebelum aku bertambah parah dan akhirnya hilang sia-sia, aku akan menceritakannya sekarang.
16. 58 saat aku melirik jam digital di layar dekstopku. sudah sore, sebentar lagi sang pengemudi takdir akan pulang,yang artinya aku harus segera bersiap untuk melapangkan dadaku lebih lapang lagi. kalau bisa selapang langit?
Aku harus berkali-kali menyadarkan diriku. bertingkah senormalnya bagaimana aku harus bertingkah. terkadang aku tidak suka jika segala sesuatu hal yang masuk dalam hidupku diganggu keberadaannya oleh orang lain. termasuk dirimu. aku tidak suka kau berinteraksi dengan orang lain. membuatku kesal dan menghancurkan moodku seharian.
lalu aku kembali mengutuki diriku sendiri. aku bodoh, kau bukan siapa-siapaku. kau bahkan bukan sapai yang setiap hari kuminta susunya untuk sarapan, atau ayam yang kuminta telurnya untuk ku buat martabak mie. jadi aku berusaha mengenyahkanmu lagi dari hidupku, dari hatiku.
esok, saat aku sudah mendapatkan tempat yang tepat untuk menuangkan rasaku, saat itu kau tidak perlu takut aku akan mendiamkanmu lagi, secara tiba-tiba.
kata orang, ini senja yang merona. jadi biarku tuliskan disini nanti, untuk mengingatkanku bahwa pada sebuah senja yang merona aku pernah menulis kisah tentangmu--yang tak pernah kau sadari keberadaannya.
Senja yang merona, 28 Agustus 2014
Dilatar suara Ayam kampung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar